Angkot oh Angkot . . .

Yang namanya angkot (angkutan kota), salah satu jenis kendaraan umum yang sangat merakyat dimasyarakat Indonesia yang ada di kota atau di desa, semakin merajalela saja. Bayangkan saja, jalan sepanjang jalan dipenuhi angkot. Belum lagi mereka (para supir angkot) terkadang dengan seenaknya sendiri menurunkan penumpang di sembarangan tempat. Lebih parah lagi, mendadak berhenti ! Dari posisi ditengah jalan, tiba-tiba berhenti, lalu turunlah penumpang.. Mau dibawa kemana keselamatan penumpang kita??? Ya kalo penumpang tersebut dengan sigap menengoka kepala ke kiri dulu agar mereka bisa menepi dengan selamat. Jika tidak. DueeRRR !!! dubrAkkk !!! nguiiingg nguiingg nguiiingg…. Mobil ambulans dateng.

Ini pengalaman saya saja, semoga anda tidak terbawa emosi. Kebetulan saya akan menuju ke kota (karena rumah saya agak jauh dari kota), di perjalanan saya kaget, tumben-tumbenan jalan yang saya lewati macet.. Puaanjangnya.. terpaksa saya cari celah celah agar motor saya bisa melaju. Cerita punya cerita setelah melewati panjangnya barisan berbagai macam kendaraan dengan beraneka rupa dan warna serta suara, terlihat jelas beberapa angkot sedang ngetem (berhenti sementara waktu untuk mencari penumpang) di perempatan. Padahal dari belakang suara klakson telah mendayu dayu kalo diartikan kedalam bahasa manusia, mungkin seperti ini “woiii…. Minggir !!! jalan macet nih gara gara lu!!”. Mungkin mereka anggap suara klakson tersebut sebagai live music. Who knows?? Tapi saya lihat supir angkot tersebut tidak bergeming, karena angkot mereka masih kosong. OMG !!

Bagi pengguna jalan yang lain, dengan adanya perilaku supir angkot yang “seenaknya” , mereka jadi geram, marah, tak jarang mereka memaki-maki. Tapi tetap saja supir dan angkotnya melaju seakan tak ada sesuatu terjadi. Mereka suka ngetem di sembarang tempat, padahal telah jelas disana terpasang rambu-rambu dilarang parkir. Tidak itu saja, mereka ngetem di titik-titik rawan kemacetan.. Jalan yang semula macet tambah panjang macetnya, yang tadinya lancar perjalannya jadi macet akibat preman jalan raya ini.

Disini bukannya saya memojokkan para supir angkot, tetapi sekedar memberikan fakta yang ada dilapangan. Seperti itulah mereka, seperti itulah kebiasaan mereka dijalan. Jalan bukan milik mereka sendiri, tapi milik bersama, milik rakyat. Saya tau mereka juga rakyat yang membayar pajak juga. Harusnya mereka lebih sadar tentang itu. Sadar tentang pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), atau sekarang menjadi PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Kepentingan umum atau bersama lebih penting dari pada kepentingan pribadi atau golongan. Setidaknya jika mereka dan KITA telah menyadari hal itu, niscaya kemacetan dan kecelakan lalu lintas berkurang. Pengalaman pribadi saya, sekali lagi bukan menyalahkan supir angkot, ada saudara saya yang meninggal akibat supir yang ugal-ugalan, seenaknya mengendarai angkot mereka, menginjakkan rem sekehendak hatinya sekaan mereka sendiri yang ada dijalan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s