Kapal Phinisi @ Tana Beru, Bulukumba


Saya ngga percaya waktu dia bilang kalau kapal-kapal Phinisi dibuat secara tradisional, tanpa paku!!
Jadi saya browsing dan dapet banyak informasi dari blog ini..

Kawasan pembuatan perahu phinisi terletak Kabupaten Bulukumba, sekitar 150 kilometer dari Kota Makassar. Karenanya Kabupaten Bulukumba juga populer sebagai Butta Panrita Lopi (kampung ahli perahu), Masyarakatnya terkenal sangat piawai dalam membuat perahu phinisi yang diwarisi secara turun temurun.Perajin perahu akan ditemukan di hampir setiap pesisir pantai Bulukumba.

Untuk sampai ke lokasi pembuatan perahu phinisi di Bulukumba, tepatnya di Tana Beru, dibutuhkan sekitar lima hingga tujuh jam perjalanan lewat darat dari Kota Makassar. Di pesisir pantai berjarak 24 kilometer dari Ibu Kota Bulukumba inilah tempat pertama kalinya perahu Phinisi Nusantara diluncurkan untuk mengarungi Samudera Pasifik hingga ke Vancouver, Kanada, dengan dikomandoi nakhoda Ammanagappa. Phinisi ini berlayar sampai Madagaskar, juga Hati Marege dan Damar Sagara yang masing-masing berlayar ke Australia dan Negeri Sakura, Jepang.

Pembuatan perahu diawali dengan upacara ritual spesifik yang sarat dengan nilai-nilai budaya setempat. Perahu dibuat menggunakan kayu pilihan, dengan memadukan keterampilan teknis dan kekuatan magis.

Pada setiap bagian kapal sarat dengan falsafah hidup. Masyarakat setempat yakin bahwa kemampuan mereka membuat perahu lebih karena kedekatan mereka pada alam dan “sukma” laut. Keahlian para panrita lopi dari Bulukumba sudah terkenal sampai ke mancanegara. Umumnya adalah pesanan orang Eropa.

Teknik pembuatan kapal tradisional phinisi yang dibuat masyarakat Bulukumba terbilang unik, karena tidak lazim dan menyimpang dari teori umum teknik perkapalan.

Kalau pada pembuatan perahu modern yang dibuat terlebih dahulu adalah rangka kapal kemudian diberi dinding, maka perahu yang dibuat orang di Tanah Beru justru kebalikannya. untuk membuat perahu itu, mereka membuat dinding dahulu, baru kemudian diberi kerangka atau solloro.

Namun anehnya, saat proses pengapungan kapal di lautan, desain kapal yang biasanya tanpa gambar dan hanya mengikuti naluri si pembuatnya, justru memiliki keseimbangan yang luar biasa. Lebih kuat dan tahan ombak dibandingkan dengan perahu yang dibangun mulai dari rangkanya dulu.

Kapal phinisi sesuai desain awalnya, juga tidak menggunakan paku melainkan pasak kayu dan kulit kayu untuk menutupi celah-celah dinding perahu.





Wow.. hebatnya bangsaku!!! *singing: nenek moyangku seorang pelaut..*

sumber : http://www.damniloveindonesia.com/blog/?p=97

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s